Bandung – Salah satu dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta, Edo Segara Gustanto menghadiri Seminar Internasional bertajuk “AI, Social Media, and Gen Z in Globalized Contexts: Challenges and Opportunities” yang diselenggarakan di Aula Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung (3/11/2024).
Seminar ini menghadirkan Prof. Nadirsyah Hosen (Dosen Universitas Melbourne Australia) yang membahas bagaimana peran kecerdasan buatan (AI) dan media sosial dalam membentuk pola pikir generasi Z yang kritis dan bertanggung jawab. Kegiatan ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang di era digital dalam konteks pengembangan generasi muda Muslim.
Nadirsyah Hosen, Associate Professor Melbourne Law School, The University of Melbourne, Australia, membahas bagaimana AI dapat digunakan untuk mendukung gerakan sosial seperti boikot terhadap produk-produk yang terkait dengan Israel. Ia menyoroti pentingnya pengembangan basis data dengan AI untuk mencatat produk dan perusahaan terkait Israel.
Selain itu, AI dapat mendukung gerakan ini melalui aplikasi pemindai barcode, analisis rantai pasok, dan Natural Language Processing (NLP) untuk memberikan transparansi kepada konsumen. Dengan AI, masyarakat dapat mengambil keputusan lebih terinformasi sesuai nilai-nilai etis mereka.
Dalam presentasinya, Nadirsyah lebih lanjut menyoroti pentingnya memahami peran AI dalam konteks global. Ia memulai dengan menjelaskan perkembangan masyarakat menuju Society 5.0, di mana teknologi canggih menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Dalam kerangka ini, AI menjadi alat strategis yang dapat digunakan untuk mendorong keadilan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai contoh, Nadirsyah menyoroti kasus pemboikotan produk-produk yang memiliki koneksi dengan Israel yang di Indonesia dimulai dengan keluarnya Fatwa MUI dan beredarnya secara viral daftar produk yang mendukung Israel di media sosial. Dalam hal ini, AI dapat berperan penting melalui pengembangan basis data yang mencatat perusahaan-perusahaan dan produk yang terkait dengan Israel. Basis data ini dapat menggunakan sumber informasi terbuka, laporan keuangan, serta data rantai pasok untuk memberikan transparansi kepada konsumen. Dengan demikian, teknologi AI membantu membangun kesadaran publik terhadap isu-isu etis yang terkait dengan produk tertentu.
Selain itu, AI dapat mendukung gerakan boikot melalui aplikasi pemindai kode batang (barcode) yang mampu menganalisis asal-usul produk. Aplikasi ini memungkinkan konsumen untuk secara instan mengetahui apakah sebuah produk terhubung dengan perusahaan yang mendukung Israel. Lebih lanjut, analisis rantai pasok yang dilakukan AI dapat mengungkap koneksi tersembunyi antara perusahaan-perusahaan besar dan entitas yang mendukung kegiatan yang diprotes oleh komunitas global.
Namun, Nadirsyah menunjukkan bahwa berbagai platform yang berisi boikot produk yang diduga mendukung Israel ternyata memiliki data yang berbeda. Danone, misalnya, pada satu platform dinyatakan termasuk terafiliasi dengan Israel, tetapi di platform lain perusahaan tidak masuk dalam daftar boikot. Di sini, ia menekankan pentingnya daya nalar kritis dari pengguna AI dan media sosial, khususnya Gen Z.
Nadirsyah juga menjelaskan bagaimana AI dapat digunakan untuk menganalisis data publik, seperti pernyataan perusahaan, pengungkapan keuangan, atau situs web, menggunakan teknologi Natural Language Processing (NLP). Hal ini memberikan kemampuan tambahan bagi masyarakat untuk memahami lebih dalam keterlibatan perusahaan dalam aktivitas yang mendukung Israel. Dengan adanya alat ini, konsumen dapat mengambil keputusan yang lebih terinformasi sesuai dengan nilai-nilai etis mereka.
Melalui pendekatan ini, Nadirsyah menggarisbawahi bahwa teknologi, khususnya AI, dapat menjadi alat yang kuat dalam mendukung gerakan sosial. Namun, ia juga menekankan pentingnya menggunakan teknologi ini secara bijaksana dan beretika. Di era kemajuan teknologi yang pesat, gerakan seperti ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk akademisi, masyarakat, dan pengembang teknologi, untuk memastikan bahwa tujuan etis dapat tercapai tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.
Selain manfaat praktis dalam mendukung gerakan sosial, Nadirsyah juga menyoroti dampak signifikan AI terhadap keilmuan sosial dan politik. Teknologi ini membuka peluang besar untuk penelitian yang lebih mendalam terkait dinamika kekuasaan, distribusi sumber daya, dan peran masyarakat sipil dalam proses pengambilan keputusan global.
Dengan kemampuan AI untuk menganalisis data besar secara cepat dan efisien, para peneliti sosial-politik dapat mengeksplorasi pola hubungan internasional, efektivitas kebijakan publik, dan respons masyarakat terhadap isu-isu global seperti konflik geopolitik dan pelanggaran HAM. Hal ini memperkuat relevansi ilmu sosial dan politik dalam memahami tantangan dunia modern, sekaligus menawarkan solusi berbasis data untuk menciptakan perubahan positif.
Dengan keikutsertaan ini, FEBI IIQ An Nur semakin menunjukkan komitmennya dalam memajukan kajian multidisiplin yang relevan dengan tantangan global, sekaligus mempromosikan nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek kehidupan.[]
