Bantul – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta menyatakan dukungannya terhadap gerakan boikot sebagai bentuk solidaritas sosial dan perjuangan ekonomi. Namun, dukungan tersebut disertai dengan catatan penting, agar boikot dilakukan dengan bijak dan tidak salah sasaran.
Dalam Seminar Nasional bertema “Boikot, Antara Motif Kemanusiaan dan Etika Persaingan Bisnis” yang diadakan di Auditorium kampus IIQ An Nur (17/8/2024), sejumlah mahasiswa menyuarakan pendapat mereka pasca kegiatan tersebut.
“Boikot adalah hak kita sebagai konsumen dan bagian dari perjuangan ekonomi. Namun, ini tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus ada dasar yang jelas dan kajian mendalam agar tidak boleh merugikan pihak yang tidak bersalah,” ujar Sabri salah satu mahasiswa Prodi Perbankan Syariah, semester tiga FEBI IIQ An Nur.
Mahasiswa lainnya juga menekankan pentingnya edukasi sebelum melakukan boikot. “Saya setuju boikot, karena bisa mendorong produk lokal laku. PR-nya, harus ada subtitusi dari produk-produk yang harus diboikot,” ungkap Mukhtar Almas, mahasiswa semester tiga Prodi Ekonomi Syariah, FEBI IIQ An Nur.
Selain itu, mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah semester tujuh, Muhammad Irdan menyampaikan bahwa ia setuju boikot, asal gerakan ini jangan sampai ditunggangi kepentingan bisnis. “Sangat jahat kalau situasi agresi Israel terhadap Palestina ini ditunggangi kepentingan bisnis. Akhirnya, situasi seperti justru merugikan pekerja, peternak, petani lokak kita karena imbas boikot,” jelasnya dalam wawancara kepada admin.
Seminar ini menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, M. Arif Kurniawan (Dekan FEBI IIQ An Nur Yogyakarta) dan Yusdani Ali Rahman (Direktur Pusat Studi Siyasah dan Pemberdayaan Masyarakat Yogyakarta). “MUI tidak pernah menjelaskan produk yang harus diboikot, hanya sebatas fatwa. Harusnya Pemerintah, MUI, Ormas Islam duduk bersama untuk melakukan hal seperti PBB. PBB memanggil semua perusahaan yang diduga terkait dengan Israel, mereka diminta untuk menjelaskan. Sehingga rilis produk yang dikeluarkan tidak liar seperti sekarang. Justru ada pihak-pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk memukul pesaing bisnisnya,” jelas Yusdani.
Muhammad Arif Kurniawan, Dekan FEBI IIQ An Nur dalam kesempatan tersebut menyoroti bahwa boikot harus dilihat tidak hanya sebagai aksi ekonomi, tetapi juga sebagai strategi dakwah. “Boikot dalam Islam harus memperhatikan etika bisnis di dalam Islam. Jangan sampai aksi ini melanggar nilai-nilai Islam,” tegasnya.
Diskusi diakhiri dengan seruan agar mahasiswa tidak hanya semangat dalam aksi, tetapi juga mendukung gerakan boikot dengan langkah yang terukur dan disertai data yang valid. Rangkaian kegiatan ini diharapkan mampu memberikan wawasan yang lebih mendalam kepada mahasiswa dan masyarakat terkait gerakan boikot, sehingga dapat menjadi langkah yang strategis, beretika, dan berdampak nyata.[]
